Vertical Farming

Published by Thomas van Rossum on

Vertical Farming: Solusi Bercocoktanam di Lahan Sempit Perkotaan

 

Oleh: Tifana Rasyitagani

Pembangunan dan perkembangan di era modern memang tidak dapat dihindari. Banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian mengakibatkan lahan untuk kegiatan bertanam pun semakin sedikit bahkan hampir tidak tersedia. Salah satu dampak nyata dari perubahan tersebut terhadap pertanian adalah berkurangnya bahan pangan yang dapat dihasilkan. Menghadapi keadaan yang tidak terelakan itu, kita harus mencari cara agar dapat menyesuaikan diri meskipun pada lingkungan yang relatif telah berubah. Saat ini telah banyak inovasi bercocoktanam yang lebih adaptif dibanding dengan cara konvensional. Menjadi warga kota dengan lahan terbuka yang relatif sempit, biasanya menjadikan kita enggan untuk memulai kegiatan berkebun. Namun sekarang Anda tidak perlu khawatir, berkebun menjadi lebih mudah dan menyenangkan dengan metode vertical farming. Lahan yang sempit bukan lagi halangan bagi Anda yang ingin bercocoktanam.  

Vertical farming atau yang biasa disebut pertanian vertikal saat ini memiliki daya tarik sendiri di Indonesia. Masyarakat mulai tertarik untuk menanam sayuran disekitar pekarangan rumah, di sekitar sekolah, bahkan gedung perkantoran. Metode pertanian vertikal merupakan inovasi dalam menghadapi permasalahan lahan terbuka yang semakin sempit karena didominasi oleh bangunan. Prinsip dari metode ini adalah menanam secara vertikal dengan memanfaatkan dinding bangunan atau bahkan menyusun tempat sendiri pada rak dan menatanya secara vertikal. Pertanian vertikal banyak diadaptasi oleh mereka yang tinggal diperkotaan. Dengan kata lain pertanian vertikal sangat tepat bagi kawasan perkotaan yang tidak memiliki lahan memadai untuk bercocoktanam.

Merubah paradigma masyarakat dari sistem pertanian konvensional secara horizontal ke pertanian vertikal memang bukan hal yang mudah. Dijelaskan oleh Sitawati, seorang ahli tanaman lanskap dan mikroiklim Universitas Brawijaya, bahwa masyarakat Indonesia cenderung sulit untuk diajak beralih ke suatu yang baru apalagi hal tersebut belum terbukti memberikan keuntungan ataupun manfaat. Ia juga menyampaikan hendaknya perubahan dimulai dari hal yang paling sederhana, seperti memanfaatkan pekarangan rumah. Anda juga dapat menyulap limbah botol bekas ataupun wadah bekas minyak goreng yang tidak terpakai sebagai wadah tanam kemudian menatanya secara vertikal disudut pekarangan rumah. Beragam tanaman sayuran biasanya menjadi primadona karena perawatannya yang mudah, bisa dikonsumsi, dan waktu panennya lebih singkat. Sitawati juga menambahkan bahwa salah satu tujuan dari pertanian vertikal adalah diharapkan setiap rumah mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sehingga mampu terciptanya ketahanan pangan. Dosen yang sekaligus langganan juri dalam perlombaan Penataan Taman Lingkungan Kota Malang ini menuturkan bahwa manfaat dikelilingi oleh tanaman juga sangat berdampak pada psikologis. Dengan adanya tanaman disekitar akan memberikan kesan nyaman dan teduh bagi manusia sehingga menumbuhkan rasa bahagia dan mood yang lebih baik. Jadi tidak ada salahnya membuat bangunan tempat tinggal Anda cantikdengan adanya tanaman hijau.

Contoh lain yang biasanya digunakan di gedung perkantoran adalah menggunakan planter bag yang selanjutnya ditempel dinding seperti salah satu yang ada di bangunan Universitas Brawijaya.

Pertanian vertikal menggunakan planter bag yang diletakkan pada dinding Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menambah estetika bangunan (Photo by: Tifana)

Pertanian vertikal dapat juga digabungkan dengan metode pertanian yang populer seperti sistem hidroponik. Prinsip utama dari sistem hidroponik adalah menggunakan media tanam selain tanah (soiless). Media yang digunakan dapat berupa air, arang sekam, serabut kelapa, pecahan batu, dan moss. Tentu saja pemilihan media tanam dan kombinasinya didasarkan atas pemilihan tanaman. Yang perlu Anda ingat adalah tidak semua tanaman memiliki kebutuhan yang sama untuk dapat tumbuh. Sistem hidroponik merupakan sistem yang sesuai bagi tanaman untuk tumbuh dengan kebutuhan air yang relatif sedikit serta penataannya secara vertikal.

Implementasi pertanian vertikal sistem hidroponik dengan tanaman rumput hias (Photo by: Tifana)

Pertanian vertikal juga dapat diterapkan di lingkungan sekolah dengan melibatkan para siswa dalam pembuatan maupun perawatannya. Malahan kebanyakan dari mereka terlihat lebih antusias dalam merawat tanaman yang ada dilingkungan sekolahnya.

Berikut merupakan contoh pertanian vertikal yang dibuat di dalam bangunan salah satu sekolah MI Kota Malang.

Pembuatan pertanian vertikal di lingkungan MI Khadijah Kota Malang dengan memanfaatkan bak plastik dan pot plastik. Tanaman diletakkan pada dinding depan kelas dan di sela-sela pagar (Photo by: Gatrawiyata, 2016)

Selain menggunakan bak dan pot plastik, Anda dapat juga menggunakan planter bag yang saat ini telah banyak dijual dipasaran (Photo by: Gatrawiyata, 2016)

Botol plastik bekas yang diubah menjadi media tanam menarik (Photo by: Google)

Berbeda dengan kegiatan menanam di lahan pada umumnya, metode pertanian vertikal memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kebun yang Anda buat dapat memberikan manfaat optimal.

  1. Pemilihan tanaman. Jika ingin menanam didalam gedung yang cenderung tidak mendapatkan sinar matahari dan tertutup maka hendaknya memilih tanaman yang tahan terhadap naungan dan tidak memerlukan penyiraman yang intensif. Begitupun sebaliknya, jika Anda menghendaki kebun vertikal berada di luar bangunan maka pilihlah tanaman yang tahan akan sinar matahari dan hujan. Hal ini penting mengingat setiap tanaman memiliki kemampuan untuk tumbuh yang berbeda-beda. Jenis tanaman yang ditanam juga bergantung pada keinginan Anda. Beberapa tanaman yang mudah untuk dibudidayakan adalah lettuce dan sayuran hijau, seperti pakcoy, sawi maupun tanaman sejenis lainnya.
  2. Wadah dan media tanam yang memadai. Tidak melulu menggunakan pot, Anda juga dapat memanfaatkan planter bag, pipa paralon, atau bahkan menggunakan botol plastik dan plastik bekas minyak goreng sebagai wadah. Sedangkan untuk media tanam, dapat menggunakan tanah dengan campuran pupuk organik, arang sekam, maupun cocopeat (sabut kelapa).
  3. Prinsip lain dari pertanian vertikal sebenarnya adalah perawatannya yang mudah dan praktis. Akan tetapi, Anda tetap harus memperhatikan untuk penyiramannya. Tanaman yang dirawat dengan baik tentu akan memberikan hasil yang baik pula.

Seiring berjalannya waktu, pertanian vertikal mengalami beberapa penyesuaian terhadap kebutuhan. Hal ini terlihat dari adaptasi metode dan pengembangan pertanian vertikal yang lebih modern. Salah satu model yang banyak diadaptasi oleh beberapa industri adalah LED technology vertical farming.

Hal yang mendasari LED technology adalah kebutuhan tanaman akan cahaya yang berbeda-beda. Cahaya matahari menjadi salah satu komponen utama dari fotosintesis. Namun sayangnya cahaya matahari yang jatuh ke bumi tidak semuanya dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Cahaya matahari terdiri dari beberapa spektrum warna yang dibedakan atas panjang gelombang. Spektrum warna tersebut adalah cahaya biru, merah, merah jauh, hijau, jingga dan lainnya. Prinsip yang dikembangkan oleh teknologi LED adalah memfokuskan cahaya spesifik pada tanaman sehingga mampu dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu yang telah terbukti ialah teknologi blue light dan red light di negara Belanda. Di Belanda, teknologi LED digunakan sebagai bantuan untuk tanaman agar tetap berproduksi sepanjang tahun. Belanda merupakan negara dengan empat musim dimana hanya tanaman tertentu yang mampu hidup. Teknologi LED ini bisa dikatakan sebagai modifikasi iklim bagi tanaman. Dengan melihat dua permasalahan yaitu ketersediaan lahan dan kebutuhan tanaman akan cahaya, maka inovasi tersebut digabungkan menjadi vertical farming berbasis LED technology.

Teddy Prayoga, mahasiswa Wageningen University yang berkesempatan magang dan penelitian di salah satu perusahaan pengembang lampu LED, menjelaskan bahwa teknologi LED ini cukup membantu para petani di Belanda untuk terus memproduksi tanaman meskipun cuaca sebenarnya sedang tidak mendukung. Petani biasanya kesulitan saat musim dingin karena matahari hanya bersinar <6 jam per hari. Dengan adanya inovasi LED, tanaman dapat tumbuh sepanjang tahun dan kebutuhan cahanyanya bisa diatur.

Salah satu ruangan LED yang diimplentasikan secara vertikal (Photo by: Teddy Prayoga)
Tanaman Rocket yang dibudidayakan dengan sistem red light indoor vertical farming (Photo by: Teddy Prayoga)

Jenis sayuran yang telah ditanam dengan teknologi LED adalah lettuce, rocket dan tanaman lain yang mulai dikembangkan adalah tomat. Selain hortikultura, komoditas florikultura seperti gerbera dan mawar telah banyak berhasil dibudidayakan dengan teknologi ini. Salah satu keuntungan dari LED indoor vertical farming ialah mampu mengurangi resiko hama dan penyakit.

Menurut penjelasan Teddy, Belanda memang memerlukan teknologi semacam ini guna mendukung pertaniannya. Bagi Teddy, satu poin penting apabila ingin mengimplentasikan suatu teknologi adalah memperhatikan sumberdaya dan alasan pendukung lainnya. Indoensia adalah negara yang mendapat sinar matahari selama 12 jam per hari. Hal ini menjadi pertimbangan lebih bila ingin menerapkan teknologi LED karena tingginya biaya investasi. Muncul kekhawatiran bahwa teknologi yang masih tergolong baru ini malah tidak memberikan manfaat bila tidak diikuti dengan persiapan pengetahuan dan finansial yang memadai. Menurut Teddy, penerapan teknologi LED bagi pertanian Indonesia memungkinkan mengingat kebutuhan pangan yang meningkat sedangkan teknologi konvensional tidak dapat memenuhi permintaan tersebut. 

LED technology indoor vertical farming yang terintegrasi dengan sistem (Photo by: Teddy Prayoga)

Setelah membaca tentang pertanian vertikal, ternyata ada banyak cara untuk memulai berkebun meskipun di area yang relatif sempit. Selain itu, banyaknya manfaat yang ditawarkan juga bisa menjadi pertimbangan untuk mulai menghijaukan lingkungan sekitar.

Jadi, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda tertarik menerapkan LED technology indoor vertical farming? Atau ingin memulai dengan yang lebih sederhana, menggunakan botol, planter bag ataupun sistem hidroponik? Selamat berkebun!